Dengan
maraknya obrolan tentang kemungkinan dibukanya lahan tambang di satu-satunya
hutan paling luas di Indonesia, membuatku teringat satu judul novel yang sangat
menarik: Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta. Jangan bayangkan tokoh utamanya
adalah seorang laki-laki romantis yang soft spoken dan act of service, kalo
kata gen Z ketika ada obrolan yang berkaitan dengan kata “cinta”. Si Kakek,
tokoh utama novel ini, punya caranya sendiri untuk terlihat menggemaskan di mata
para pembaca.
Membaca
buku ini, serasa sedang mendengarkan omelan dan dumelan Kakek atas perilaku
manusia yang gegabah dan merasa paling tahu tentang alam. Rasa-rasanya, ingin
kubuatkan secangkir teh dan sepiring mendoan hanya agar ia berhenti kesal dan
sibuk mengunyah. Setelah kekesalannya pudar, aku akan mengajaknya bercerita
kembali dengan pikiran tenang dan hati lapang.
Siapakah
yang seharusnya disalahkan atas penyerangan harimau pada masyarakat pinggir
hutan? Harimau yang pendendam atas kematian pasangannya atau ketamakan manusia
yang menjarah wilayah tempat tinggal harimau berikut hewan-hewan di dalamnya? Atau
misalnya dalam kasus negara Abracadabra ini, siapakah yang patut disalahkan
ketika nantinya semua bumi dikeruk jadi tambang nikel dan masyarakatnya megap-megap
kehabisan udara bersih sehingga muncullah berbagai pertengkaran besar di bumi
ini? Ah, lupakan, karena aku berniat berhenti membuat Kakek ngedumel dan kesal.