Peristiwa-peristiwa tidak berhenti terjadi selama nafas
kehidupan masih lewat di kedua lubang hidung. Begitupun sistem nilai dan
gagasan baru untuk mempermudah urusan manusia terus bermunculan seiring dengan
berkembangnya teknologi—atau akibat adaptasi alam raya terhadap
perubahan-perubahan ini. Mengutip dari portal berita online, CNBC Indonesia,
usia harapan hidup masyarakat Indonesia adalah 71,2 tahun. Setidaknya, apabila
kita adalah salah satu manusia yang ditakdirkan berumur panjang dan prediksi
dari angka harapan hidup tersebut benar, kita perlu mencari cara untuk tetap
hidup waras sebagai manusia selama 71,2 tahun. Salah satu cara agar hidup dapat
dijalani secara waras adalah dengan merasa bahagia.
Berbicara mengenai bahagia, ingatan saya jatuh pada
buku karya Dea Anugrah. Dalam satu-satunya karya bunga rampainya—sejauh ini Dea
menulis satu kumpulan cerpen, satu bunga rampai, dan baru saja menerbitkan
kumpulan puisinya yang berjudul Kertas
Basah—yang berjudul Hidup Begitu
Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, Dea menyimpulkan bahwa optimistis
lahir dari keputusasaan karena dunia ideal yang hanya ada di pikiran mereka
tidak sesuai dengan realitas yang mewujud. Mereka tidak menerima bahwa dunia
yang ditinggali adalah bangunan bobrok dan setiap orang saling sikut untuk
mendapat tempat terbaik di atas puing-puing busuk ini. Berjuang menegakkan
keadilan namun enggan menerima bahwa ketidakadilan di dunia ini nyata—dan sayangnya
kekal.
Tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran semacam itu
merupakan akibat dari ketidakmampuan kita mengelola dan memilih hal yang bisa
membuat kita bahagia. Manusia acapkali menggantungkan ukuran kebahagiaan
terlampau jauh dari tangan mereka sendiri. Saat aku berada di bangku kuliah, saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang dan kandas di tengah jalan. Tidak
hanya saya, tetapi mantan pun menyesali kejadian ini. Alasan di baliknya sepele,
hubungan kami berjalan tidak sesuai dengan pasangan-pasangan lain lalui.
Dalam bayangan saya, hubungan ideal adalah hubungan yang
selalu komunikatif, saling mengasihi, dan saling menyokong satu sama lain. Hal
yang saya lupakan adalah sejak kapan nilai-nilai yang menurut saya ideal dalam
hubungan adalah nilai yang harus saya terapkan pula pada hubungan saya? Mengapa
saya sulit bahagia dengan hubungan yang saya miliki? Karena saya terpaku pada
hubungan ideal menurut banyak orang dan menginginkan pacar saya berlaku sesuai
dengan aturan tersebut—yang mana hal itu berada di luar kendali saya. Saya
gagal memilih tolok ukur kebahagiaan karena saya menggantungkan ukuran
kebahagiaan berdasarkan kebahagiaan ideal yang diakui oleh banyak orang.
Lantas hal apa yang jenis kebahagiaan seperti apa
yang akan membuat saya bahagia? Tentu saja ada banyak. Saya bahagia ketika saya
berhasil membeli buku yang saya inginkan tanpa melihat label harga. Saya akan
bahagia ketika saya bisa berlangganan netflix maupun spotify tanpa khawatir
uang dalam ATM saya terkuras. Saya menikmati bisa menghabiskan waktu sore hari
dengan membaca buku di Blandongan dengan telinga tersumpal headset—oh dan
jangan lupakan keberadaan Bos Lutung di depan saya, entah dia ngegame atau
sedang vidcall-an dengan pacarnya. Lain kali saya akan tertawa karena berhasil
memaksa Bayu main gitar untuk mengiringi saya menyanyi—tentu saja dia akan
mengiyakan dengan bersungut-sungut dan saya tidak akan marah jika ia menolaknya
satu dua kali. Saya akan tersenyum melihat sukulen yang saya tanam tumbuh
sehat. Saya akan bangga ketika menyerahkan daun singkong hasil kebun saya
kepada ibu untuk dimasak. Dan tentu saja saya akan bergembira menonoton film
dengan Puppy—anak kucing berumur 2 bulan peliharaan kami—tidur di atas punggung
saya.
Saya bahagia mengerjakan hal-hal sederhana yang saya
yakin itu tulus dari dalam hati saya sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar