Minggu, 13 September 2020

KeEBAHAGIAAN YANG MENGGANTUNG DALAM JANGKAUAN TANGAN

 

Peristiwa-peristiwa tidak berhenti terjadi selama nafas kehidupan masih lewat di kedua lubang hidung. Begitupun sistem nilai dan gagasan baru untuk mempermudah urusan manusia terus bermunculan seiring dengan berkembangnya teknologi—atau akibat adaptasi alam raya terhadap perubahan-perubahan ini. Mengutip dari portal berita online, CNBC Indonesia, usia harapan hidup masyarakat Indonesia adalah 71,2 tahun. Setidaknya, apabila kita adalah salah satu manusia yang ditakdirkan berumur panjang dan prediksi dari angka harapan hidup tersebut benar, kita perlu mencari cara untuk tetap hidup waras sebagai manusia selama 71,2 tahun. Salah satu cara agar hidup dapat dijalani secara waras adalah dengan merasa bahagia.

Berbicara mengenai bahagia, ingatan saya jatuh pada buku karya Dea Anugrah. Dalam satu-satunya karya bunga rampainya—sejauh ini Dea menulis satu kumpulan cerpen, satu bunga rampai, dan baru saja menerbitkan kumpulan puisinya yang berjudul Kertas Basah—yang berjudul Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, Dea menyimpulkan bahwa optimistis lahir dari keputusasaan karena dunia ideal yang hanya ada di pikiran mereka tidak sesuai dengan realitas yang mewujud. Mereka tidak menerima bahwa dunia yang ditinggali adalah bangunan bobrok dan setiap orang saling sikut untuk mendapat tempat terbaik di atas puing-puing busuk ini. Berjuang menegakkan keadilan namun enggan menerima bahwa ketidakadilan di dunia ini nyata—dan sayangnya kekal.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran semacam itu merupakan akibat dari ketidakmampuan kita mengelola dan memilih hal yang bisa membuat kita bahagia. Manusia acapkali menggantungkan ukuran kebahagiaan terlampau jauh dari tangan mereka sendiri. Saat aku berada di bangku kuliah, saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang dan kandas di tengah jalan. Tidak hanya saya, tetapi mantan pun menyesali kejadian ini. Alasan di baliknya sepele, hubungan kami berjalan tidak sesuai dengan pasangan-pasangan lain lalui.

Dalam bayangan saya, hubungan ideal adalah hubungan yang selalu komunikatif, saling mengasihi, dan saling menyokong satu sama lain. Hal yang saya lupakan adalah sejak kapan nilai-nilai yang menurut saya ideal dalam hubungan adalah nilai yang harus saya terapkan pula pada hubungan saya? Mengapa saya sulit bahagia dengan hubungan yang saya miliki? Karena saya terpaku pada hubungan ideal menurut banyak orang dan menginginkan pacar saya berlaku sesuai dengan aturan tersebut—yang mana hal itu berada di luar kendali saya. Saya gagal memilih tolok ukur kebahagiaan karena saya menggantungkan ukuran kebahagiaan berdasarkan kebahagiaan ideal yang diakui oleh banyak orang.

Lantas hal apa yang jenis kebahagiaan seperti apa yang akan membuat saya bahagia? Tentu saja ada banyak. Saya bahagia ketika saya berhasil membeli buku yang saya inginkan tanpa melihat label harga. Saya akan bahagia ketika saya bisa berlangganan netflix maupun spotify tanpa khawatir uang dalam ATM saya terkuras. Saya menikmati bisa menghabiskan waktu sore hari dengan membaca buku di Blandongan dengan telinga tersumpal headset—oh dan jangan lupakan keberadaan Bos Lutung di depan saya, entah dia ngegame atau sedang vidcall-an dengan pacarnya. Lain kali saya akan tertawa karena berhasil memaksa Bayu main gitar untuk mengiringi saya menyanyi—tentu saja dia akan mengiyakan dengan bersungut-sungut dan saya tidak akan marah jika ia menolaknya satu dua kali. Saya akan tersenyum melihat sukulen yang saya tanam tumbuh sehat. Saya akan bangga ketika menyerahkan daun singkong hasil kebun saya kepada ibu untuk dimasak. Dan tentu saja saya akan bergembira menonoton film dengan Puppy—anak kucing berumur 2 bulan peliharaan kami—tidur di atas punggung saya.

Saya bahagia mengerjakan hal-hal sederhana yang saya yakin itu tulus dari dalam hati saya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar