Ia mendekatiku dan menaruh tangannya di atas tanganku. Tangan yang kecil, yang lembut. Aku merasa hatiku akan patah menjadi dua
Aku mengawali tulisan ini dengan
penggalan terjemahan dari cerpen The Strange Library karya Haruki Murakami. Terkesan
tidak nyambung tetapi tentu saja karena sejauh ini kalimat tersebut adalah
ungkapan cinta pada pandangan pertama paling indah—terlepas dari apakah cinta pada pandangam pertama ada
atau tidak—sekaligus paling sederhana yang pernah kutemui. Seharusnya aku
menuliskan penggalan lain yang lebih
cocok untuk kucantumkan dibandingkan kalimat cinta itu. Begini bunyinya: Kenapa
aku berlaku seperti ini, setuju jika saya sangat tidak setuju, membiarkan orang
memaksaku untuk melakukan hal yang tak ingin kulakukan? Lebih cocok bukan? Dan
lagi, potongan cerpen itu lebih mewakili pertanyaan seperti-apa-aku-ini. Mari
kita membahas mengenai personalitas dalam sudut pandangku, alih-alih membahas
omong kosong mengenai penggalan mana yang lebih cocok untuk tulisan ini.
Tidak sekali dua aku mengiyakan
permintaan orang lain padahal yang kuinginkan adalah menggelengkan kepala
kuat-kuat atas permintaannya tersebut. Celakanya, apa yang kusebut sebagai
kebaikan karena membantu teman, nyatanya berakhir bencana. Kejadian mengenaskan tersebut tidak cukup kulakukan sekali. Berkali-kali
aku harus menelan rasa bersalahku atas rasa tidak enakanku untuk menolak
permintaan teman yang sekiranya tidak mampu kupenuhi. Hingga akhirnya aku kapok
dan bertekad untuk jujur atas kondisiku. Namun, hal pertama yang kulakukan
untuk memperbaikinya adalah memaafkan diriku sendiri dan menerima bahwa hal
buruk adalah keniscayan dalam kehidupan.
Hal yang kugarisbawahi mengenai
personalitas adalah tidak ada. Tidak ada personalitas. Kita akan selalu
berinteraksi dan dalam berinteraksi tersebut kita akan selalu beradaptasi. Kita akan bersikap menyesuaikan dengan siapa kita berinteraksi. Bagaimana bersikap
dengan teman, bersikap dengan pacar, bersikap dengan keluarga, pun bersikap
dengan Tuhan. Ketika sendirian, kita nihil. Kita baru ada ketika kita berpikir.
Toh jikapun ada yang namanya
personalitas, tentunya hal tersebut tidak bersifat mutlak. Nyatanya, apabila
seseorang menuai akibat buruk dari personalitas pada dirinya, ia akan mengubah—meskipun
itu tidak dilakukan secara ekstrim dan radikal—sikap dan sifatnya
(personalitas) tersebut. Berlaku juga untuk personalitasnya ketika menghadapi lingkar pertemanan. Kecuali apabila ia ingin keluar dari lingkaran
tersebut. Hal tersebut tergantung pada dirinya sendiri. Konon, apabila kamu
tidak bersedia untuk beradaptasi dengan suatu lingkaran pertemanan, gantilah
lingkaran pertemanan. Pilihannya: adaptasi atau ganti.
Bagimana menurutmu?
semoga lekas jadi personal yang selalu berusaha baik buat diri sendiri😉
BalasHapusiyaaa, kamu juga, cintaaa wkwkw :))
BalasHapus