Jumat, 18 September 2020

SEDIKIT RINDU BANYAK KANGENNYA

Apabila ada yang bertanya tempat yang paling ingin aku kunjungi, dalam bayanganku—bahkan tanpa aku memejamkan mata—sabana Gunung Lawu akan begitu saja terhampar.  Yaa, aku pernah mendatanginya. Tapi kurasa, sekali dua tidak akan cukup memuaskan dahagaku atas keindahan Lawu. Kamu pernah ke Lawu?

Aku pernah sekali ke sana, berempat memanjat dengan nekat dan sisa-sisa kewarasan. Hari itu cuaca tidak begitu baik. Oh, sayang, bagaimana bisa kusia-siakan perjalanan Jogja-Lawu yang sudah kami tempuh. Haruskah kami membatalkan karena hujan turun dengan deras dan tidak kunjung berhenti? Entah kebaikan mana yang telah kami lakukan hingga pukul 11 siang cuaca membaik dan kami memutuskan naik setelah melihat beberapa rombongan memilih hal yang sama.

Perjalanan santai kurang lebih 8 jam kami tempuh untuk sampai di tempat camp, Pos 5 Bulak Peperangan. Waktu itu waktu sudah malam. Tidak banyak yang bisa kami liat. Tapi keesokan paginya, tempat camp itu seperti padang luas yang tanahnya ditumbuhi rumput-rumput dan di sekelilingnya dilingkari pohon-pohon. Konon, dulunya tempat ini merupakan arena perang pasukan Kerajaan Majapahit melawan pasukan Kerajaan Demak. Jalur menuju puncak setelah pos 5 sudah landai dibandingkan dengan jalur di bawahnya yang terjal. Setelah pos 5 pun pemandangannya semakin menarik.

Salah satunya ada Sendang Gupak Menjangan yang ada airnya apabila memasuki musim penghujan. Airnya benar-benar dari air hujan dan langsung bisa diminum—di gunung, keberadaan mata air benar-benar membantu punggung kami dari overload logistik. Di atas Gupak Menjangan, akan ada pula tempat camp dengan suasana seperti ngecamp di hutan Pinus. Tapi jika dirasa sudah terlalu lelah untuk berjalan, Bulak Peperangan bisa menjadi alternatif. Sebelum mengejar keindahan, dahulukan dulu safety.

Kemudian ada banyak sekali pohon-pohon mati—aku tidak tahu apakah pohon sedang meranggas atau memang mati. Tapi bisakah pohon meranggas di musim penghujan? Sebenarnya bisa menjadi latar foto yang ciamik. Hanya saja, mendaki berdua saja—rombongan terakhir pula—cukup membuat kami puas hanya melihat pemandangan sekitar (aku sadar aku penakut >.< apalagi kondisi temanku sedang tidak begitu sehat).

Pemandangan-pemandangan sabana di Gunung Lawu benar-benar membuatku kangen, meskipun lebih banyak orang menyukai sabana di Gunung Merbabu. Sabana Gunung Merbabu memiliki kesan segar dan hijau, sedangkan sabana Lawu lebih terkesan gersang. Perjalanan dari pos 1 hingga pos 5 tidak begitu kuperhatikan. Kami membagi konsentrasi pada track jalur, manajemen tenaga, dan jarak antaranggota rombongan. Tidak asyik sekali jika terpisah di gunung, bukan?

Lantas, tempat mana yang ingin kamu kunjungi?


0 komentar:

Posting Komentar