Minggu, 20 September 2020

Jumat, 18 September 2020

SEDIKIT RINDU BANYAK KANGENNYA

Apabila ada yang bertanya tempat yang paling ingin aku kunjungi, dalam bayanganku—bahkan tanpa aku memejamkan mata—sabana Gunung Lawu akan begitu saja terhampar.  Yaa, aku pernah mendatanginya. Tapi kurasa, sekali dua tidak akan cukup memuaskan dahagaku atas keindahan Lawu. Kamu pernah ke Lawu?

Aku pernah sekali ke sana, berempat memanjat dengan nekat dan sisa-sisa kewarasan. Hari itu cuaca tidak begitu baik. Oh, sayang, bagaimana bisa kusia-siakan perjalanan Jogja-Lawu yang sudah kami tempuh. Haruskah kami membatalkan karena hujan turun dengan deras dan tidak kunjung berhenti? Entah kebaikan mana yang telah kami lakukan hingga pukul 11 siang cuaca membaik dan kami memutuskan naik setelah melihat beberapa rombongan memilih hal yang sama.

Perjalanan santai kurang lebih 8 jam kami tempuh untuk sampai di tempat camp, Pos 5 Bulak Peperangan. Waktu itu waktu sudah malam. Tidak banyak yang bisa kami liat. Tapi keesokan paginya, tempat camp itu seperti padang luas yang tanahnya ditumbuhi rumput-rumput dan di sekelilingnya dilingkari pohon-pohon. Konon, dulunya tempat ini merupakan arena perang pasukan Kerajaan Majapahit melawan pasukan Kerajaan Demak. Jalur menuju puncak setelah pos 5 sudah landai dibandingkan dengan jalur di bawahnya yang terjal. Setelah pos 5 pun pemandangannya semakin menarik.

Salah satunya ada Sendang Gupak Menjangan yang ada airnya apabila memasuki musim penghujan. Airnya benar-benar dari air hujan dan langsung bisa diminum—di gunung, keberadaan mata air benar-benar membantu punggung kami dari overload logistik. Di atas Gupak Menjangan, akan ada pula tempat camp dengan suasana seperti ngecamp di hutan Pinus. Tapi jika dirasa sudah terlalu lelah untuk berjalan, Bulak Peperangan bisa menjadi alternatif. Sebelum mengejar keindahan, dahulukan dulu safety.

Kemudian ada banyak sekali pohon-pohon mati—aku tidak tahu apakah pohon sedang meranggas atau memang mati. Tapi bisakah pohon meranggas di musim penghujan? Sebenarnya bisa menjadi latar foto yang ciamik. Hanya saja, mendaki berdua saja—rombongan terakhir pula—cukup membuat kami puas hanya melihat pemandangan sekitar (aku sadar aku penakut >.< apalagi kondisi temanku sedang tidak begitu sehat).

Pemandangan-pemandangan sabana di Gunung Lawu benar-benar membuatku kangen, meskipun lebih banyak orang menyukai sabana di Gunung Merbabu. Sabana Gunung Merbabu memiliki kesan segar dan hijau, sedangkan sabana Lawu lebih terkesan gersang. Perjalanan dari pos 1 hingga pos 5 tidak begitu kuperhatikan. Kami membagi konsentrasi pada track jalur, manajemen tenaga, dan jarak antaranggota rombongan. Tidak asyik sekali jika terpisah di gunung, bukan?

Lantas, tempat mana yang ingin kamu kunjungi?


Continue reading SEDIKIT RINDU BANYAK KANGENNYA

Minggu, 13 September 2020

KeEBAHAGIAAN YANG MENGGANTUNG DALAM JANGKAUAN TANGAN

 

Peristiwa-peristiwa tidak berhenti terjadi selama nafas kehidupan masih lewat di kedua lubang hidung. Begitupun sistem nilai dan gagasan baru untuk mempermudah urusan manusia terus bermunculan seiring dengan berkembangnya teknologi—atau akibat adaptasi alam raya terhadap perubahan-perubahan ini. Mengutip dari portal berita online, CNBC Indonesia, usia harapan hidup masyarakat Indonesia adalah 71,2 tahun. Setidaknya, apabila kita adalah salah satu manusia yang ditakdirkan berumur panjang dan prediksi dari angka harapan hidup tersebut benar, kita perlu mencari cara untuk tetap hidup waras sebagai manusia selama 71,2 tahun. Salah satu cara agar hidup dapat dijalani secara waras adalah dengan merasa bahagia.

Berbicara mengenai bahagia, ingatan saya jatuh pada buku karya Dea Anugrah. Dalam satu-satunya karya bunga rampainya—sejauh ini Dea menulis satu kumpulan cerpen, satu bunga rampai, dan baru saja menerbitkan kumpulan puisinya yang berjudul Kertas Basah—yang berjudul Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya, Dea menyimpulkan bahwa optimistis lahir dari keputusasaan karena dunia ideal yang hanya ada di pikiran mereka tidak sesuai dengan realitas yang mewujud. Mereka tidak menerima bahwa dunia yang ditinggali adalah bangunan bobrok dan setiap orang saling sikut untuk mendapat tempat terbaik di atas puing-puing busuk ini. Berjuang menegakkan keadilan namun enggan menerima bahwa ketidakadilan di dunia ini nyata—dan sayangnya kekal.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran semacam itu merupakan akibat dari ketidakmampuan kita mengelola dan memilih hal yang bisa membuat kita bahagia. Manusia acapkali menggantungkan ukuran kebahagiaan terlampau jauh dari tangan mereka sendiri. Saat aku berada di bangku kuliah, saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang dan kandas di tengah jalan. Tidak hanya saya, tetapi mantan pun menyesali kejadian ini. Alasan di baliknya sepele, hubungan kami berjalan tidak sesuai dengan pasangan-pasangan lain lalui.

Dalam bayangan saya, hubungan ideal adalah hubungan yang selalu komunikatif, saling mengasihi, dan saling menyokong satu sama lain. Hal yang saya lupakan adalah sejak kapan nilai-nilai yang menurut saya ideal dalam hubungan adalah nilai yang harus saya terapkan pula pada hubungan saya? Mengapa saya sulit bahagia dengan hubungan yang saya miliki? Karena saya terpaku pada hubungan ideal menurut banyak orang dan menginginkan pacar saya berlaku sesuai dengan aturan tersebut—yang mana hal itu berada di luar kendali saya. Saya gagal memilih tolok ukur kebahagiaan karena saya menggantungkan ukuran kebahagiaan berdasarkan kebahagiaan ideal yang diakui oleh banyak orang.

Lantas hal apa yang jenis kebahagiaan seperti apa yang akan membuat saya bahagia? Tentu saja ada banyak. Saya bahagia ketika saya berhasil membeli buku yang saya inginkan tanpa melihat label harga. Saya akan bahagia ketika saya bisa berlangganan netflix maupun spotify tanpa khawatir uang dalam ATM saya terkuras. Saya menikmati bisa menghabiskan waktu sore hari dengan membaca buku di Blandongan dengan telinga tersumpal headset—oh dan jangan lupakan keberadaan Bos Lutung di depan saya, entah dia ngegame atau sedang vidcall-an dengan pacarnya. Lain kali saya akan tertawa karena berhasil memaksa Bayu main gitar untuk mengiringi saya menyanyi—tentu saja dia akan mengiyakan dengan bersungut-sungut dan saya tidak akan marah jika ia menolaknya satu dua kali. Saya akan tersenyum melihat sukulen yang saya tanam tumbuh sehat. Saya akan bangga ketika menyerahkan daun singkong hasil kebun saya kepada ibu untuk dimasak. Dan tentu saja saya akan bergembira menonoton film dengan Puppy—anak kucing berumur 2 bulan peliharaan kami—tidur di atas punggung saya.

Saya bahagia mengerjakan hal-hal sederhana yang saya yakin itu tulus dari dalam hati saya sendiri.

Continue reading KeEBAHAGIAAN YANG MENGGANTUNG DALAM JANGKAUAN TANGAN

Sabtu, 12 September 2020

PERSONALITAS: ADA ATAU TIDAK?

 

Ia mendekatiku dan menaruh tangannya di atas tanganku. Tangan yang kecil, yang lembut. Aku merasa hatiku akan patah menjadi dua

 

            Aku mengawali tulisan ini dengan penggalan terjemahan dari cerpen The Strange Library karya Haruki Murakami. Terkesan tidak nyambung tetapi tentu saja karena sejauh ini kalimat tersebut adalah ungkapan cinta pada pandangan pertama paling indah—terlepas  dari apakah cinta pada pandangam pertama ada atau tidak—sekaligus paling sederhana yang pernah kutemui. Seharusnya aku menuliskan  penggalan lain yang lebih cocok untuk kucantumkan dibandingkan kalimat cinta itu. Begini bunyinya: Kenapa aku berlaku seperti ini, setuju jika saya sangat tidak setuju, membiarkan orang memaksaku untuk melakukan hal yang tak ingin kulakukan? Lebih cocok bukan? Dan lagi, potongan cerpen itu lebih mewakili pertanyaan seperti-apa-aku-ini. Mari kita membahas mengenai personalitas dalam sudut pandangku, alih-alih membahas omong kosong mengenai penggalan mana yang lebih cocok untuk tulisan ini.

            Tidak sekali dua aku mengiyakan permintaan orang lain padahal yang kuinginkan adalah menggelengkan kepala kuat-kuat atas permintaannya tersebut. Celakanya, apa yang kusebut sebagai kebaikan karena membantu teman, nyatanya berakhir bencana. Kejadian mengenaskan tersebut tidak cukup kulakukan sekali. Berkali-kali aku harus menelan rasa bersalahku atas rasa tidak enakanku untuk menolak permintaan teman yang sekiranya tidak mampu kupenuhi. Hingga akhirnya aku kapok dan bertekad untuk jujur atas kondisiku. Namun, hal pertama yang kulakukan untuk memperbaikinya adalah memaafkan diriku sendiri dan menerima bahwa hal buruk adalah keniscayan dalam kehidupan.

            Hal yang kugarisbawahi mengenai personalitas adalah tidak ada. Tidak ada personalitas. Kita akan selalu berinteraksi dan dalam berinteraksi tersebut kita akan selalu beradaptasi. Kita akan bersikap menyesuaikan dengan siapa kita berinteraksi. Bagaimana bersikap dengan teman, bersikap dengan pacar, bersikap dengan keluarga, pun bersikap dengan Tuhan. Ketika sendirian, kita nihil. Kita baru ada ketika kita berpikir.

            Toh jikapun ada yang namanya personalitas, tentunya hal tersebut tidak bersifat mutlak. Nyatanya, apabila seseorang menuai akibat buruk dari personalitas pada dirinya, ia akan mengubah—meskipun itu tidak dilakukan secara ekstrim dan radikal—sikap dan sifatnya (personalitas) tersebut.  Berlaku juga untuk personalitasnya ketika menghadapi lingkar pertemanan. Kecuali apabila ia ingin keluar dari lingkaran tersebut. Hal tersebut tergantung pada dirinya sendiri. Konon, apabila kamu tidak bersedia untuk beradaptasi dengan suatu lingkaran pertemanan, gantilah lingkaran pertemanan. Pilihannya: adaptasi atau ganti.

            Bagimana menurutmu?

Continue reading PERSONALITAS: ADA ATAU TIDAK?

Sabtu, 15 Agustus 2020

KOTA YANG KETEGARANNYA TAK MATI-MATI

    Perjalanan ke Siung pada September lalu merupakan perjalanan yang menyenangkan. Pertama, perjalanan tersebut merupakan perjalanan pertama saya bersama kawan-kawan baru saya. Kedua, perjalanan tersebut merupakan perjalanan pertama saya dengan tujuan memanjat tebing (di awal perjalanan bahkan saya tidak yakin berhasil memanjat). Di sepanjang jalan menuju Siung, kota Wonosari dengan pegunungan kapur yang menarik perhatian berlebih berhasil membuat saya gelisah tanpa kompromi.

   Oleh sebab beberapa hal, saya dan teman saya, Timit, memutuskan menyusul rombongan yang sudah berangkat lebih dulu pada hari Jumat pukul 19.00. Paginya, hari Sabtu, pukul 08.00 saya dan Timit berangkat dari kota Yogyakarta menuju Siung dengan menahan kantuk. Perjalanan yang direncanakan berangkat pukul 07.00 pagi tersebut mengalami penundaan satu jam karena kantuk yang menjadi-jadi.

Jalan-jalan menuju Siung dihiasi oleh pemandangan yang sangat unik jika tidak ingin dikatakan sebagai pemandangan yang aneh. Beberapa kali berkendara menuju Gunungkidul, baru kali ini saya menyadari bahwa Wonosari macam salah satu Perempuan-Perempuan yang Ditinggal Lelakinya. Frasa tersebut merupakan judul cerpen karya Cucum Cantini yang dibukukan oleh platform literasi digital bernama kibul.in. Cerpen tersebut mengisi buku Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul 2017 bersama 27 cerpen lainnya dan beberapa puisi. Judul tersebut berkorelasi dengan tokoh dalam cerita tersebut.

Cucum Cantini menggunakan sudut pandang pertama dalam mengisahkan cerpen tersebut. Penulis bertindak sebagai aku yang menceritakan pandangannya mengenai dua kota yang terkesan mati karena ditinggal oleh penduduknya mengungsi ke kota. Ditinggalnya kampung halaman yang kurang menjanjikan bagi janji masa depan gemilang. Terdapat dua kota berbeda provinsi sebagai objek dalam cerpen tersebut: Wonosari dan Padalarang. Kota yang kesepian itu memiliki respon sendiri menghadapi kepiluannya. Berbeda dengan Padalarang yang ramai akan pabrik-pabrik dan kepul asap, Wonosari yang merupakan kota tandus dan kurang memiliki sumber daya yang dimanfaatkan memilih menerima keadaan. Para penduduknya mencoba mengambil apa yang disediakan oleh alam.  Dua kota yang terkesan mati bertahan hidup dengan caranya sendiri.

Di kanan kiri jalan sepanjang Wonosari akan ditemukan lahan-lahan tandus di musim kering. Dan September adalah kemarau malang dengan debu-debunya yang beterbangan. Akan terlihat pula ibu paruh baya yang menggendong kayu-kayu bakar tanpa kepayahan. Hal inilah yang membuat Wonosari sebagai kota yang menerima kepiluannya. Menikmati tangisannya dengan tangan dan kaki yang terus bekerja. Beserta tatapan polos dan senyum tanpa curiga ketika setiap jengkal kotanya didatangi oleh asing.

Di kanan kiri jalan utama, akan terlihat batu-batu cadas yang menyembul dari tanah. Pohon-pohon kering kerontang, terutama pohon jati yang meranggas di musim kemarau. Masyarakat Wonosari memilih beternak, jika tidak memutuskan ke kota. Cara tersebut dianggap sebagai satu-satunya pilihan yang aman dengan pertimbangan kondisi ekologisnya. Beternak pun terbatas pada unggas dan hewan ternak, kecuali kerbau tentu saja. Pada sore hari, akan terlihat ibu-ibu memanggul sekarung rumput dan sabit yang diselipkan di antara simpul pada karungnya. Pilihan tersebut dijalaninya demi membantu suami yang pergi merantau ke kota besar. Demi sesuap nasi untuk si bujang dan susu bagi anak bungsu terkasihnya.

Keindahan Wonosari terbentuk dari adanya apa-apa yang muncul dari tanah. Tanah, darinya hal-hal baik akan tumbuh. Pohon-pohon, air-air, cinta-cinta, kasih-kasih, dan mimpi-mimpi. Tanah yang gersang dan mengandung batu yang kasar pun tetap disayanginya. Tanah sebagai penghubung laut dan langit dengan bermediakan air. Hujan yang turun acapkali begitu dirindukan tanpa memusuhi kemarau yang datang.

Bumi adalah ibu bagi segala makhluk. Tempat kita berpulang setelah dirasa waktu sudah cukup usang untuk diteruskan. Selama Tuhan belum meminta seorang manusia pulang, kehidupan tersebut akan terus berlangsung. Segarang apapun batu-batu di tanah Wonosari, segarang itu pula niat penduduknya mencari makan untuk menyambung hidup. Dengan mata memerah karena kantuk, saya mencoba tetap memandangi kehidupan Wonosari. Sesekali menengok untuk menatap barang satu dua detik untuk kemudian kembali fokus pada jalan.

Perjalanan naik turun dan berkelok-kelok selaksa sesiut angin tanpa tahu kapan berakhir berhenti di sebuah plang dengan nomina bertuliskan “Pantai Siung”. Desah yang saya keluarkan tanpa sadar cukup menjelaskan bahwa perjalanan menuju Siung merupakan perjalanan melelahkan yang berhasil saya nikmati atas pilu kota Wonosari. Pun ketika saya bertemu dengan pantai, angin yang kering tetap menyambut mata merah-menahan-kantuk kami, saya dan Timit.

Setelah kebingungan dan mencoba mencari tanda-tanda kawan-kawan yang lain, kami melihat sebuah rumah yang sama dengan yang ditunjukan oleh kawan kami. Selepas itu kami parkir dan langsung menuju lokasi pemanjatan. Di jalan, saya dan Timit melihat Mbak Hanung. “Akhirnya”, desahku kembali. Dan dimulailah petualangan sehariku dalam percobaan memanjat tebing yang asli.

Continue reading KOTA YANG KETEGARANNYA TAK MATI-MATI

Senin, 04 Mei 2020

BERENANG DI SUNGAI TUHAN

Kuberi nama Elo. Warnanya kuning keemasan, alih-alih berjenis nila, nyatanya dia adalah cupang jantan. Gerakannya lincah ketika kutatap ia dari balik botol bekas air yang bikin mabuk.

Awalnya, aku sering mengajak ia bicara karena aku masih sadar akan eksistensinya sebagai hewan peliharaan pertama yang dihadiahi oleh Mas Pacar. Lambat laun aku ditelan kesedihan dan kesepianku sendiri, lupa bahwa ada makhluk mungil lain yang bisa kuajak meratapi nasib perutku yang jarang makan berkali-kali, kendati ia sendiri rutin makan 5 butir pelet tiap hari. Beberapa hari setelahnya, kulihat ia sering diam. Kupikir ia mulai hapal dan bosan tiap jengkal botol tersebut, hingga memutuskan berhenti berputar-putar. Lalu, kutemukan ia sudah melayang, meregang nyawa.

Kutahan kesedihanku agar aku tetap bisa menjalani hari dengan waras. Aku harus mencari sepetak tanah untuk mengubur Elo, batinku pada diri sendiri, meskipun tidak rela aku ditinggalkannya sendirian.
Aku memutuskan pulang ke rumah selang beberapa hari setelahnya, dengan alasan ada agenda yang perlu kutuntaskan. Kukira aku sama sekali tidak menangisi kepergian Elo. Tetapi malam ini, sesak itu kembali datang dan batinku amat nelangsa. Aku terisak seperti anak kecil yang ditinggal pulang oleh temannya sedang permainan belum usai.

Halo, Elo. Nama tersebut adalah tanda persahabatan kita sekaligus pengingat diriku bahwa aku bisa memakan habis rasa takut akan ujian di Sungai Elo dalam kepalaku. Kelak, aku janji akan lebih banyak lagi memakan rasa takut dalam kepalaku, sehingga kamu bisa tenang berputar-putar di sungai milik Tuhan yang kuyakin lebih besar dari botolmu di kamar kosku. Permainanku belum selesai, dan akan kulanjutkan sendirian, atau mungkin dengan cupang yang berlainan.
Continue reading BERENANG DI SUNGAI TUHAN