Sabtu, 12 September 2020

PERSONALITAS: ADA ATAU TIDAK?

 

Ia mendekatiku dan menaruh tangannya di atas tanganku. Tangan yang kecil, yang lembut. Aku merasa hatiku akan patah menjadi dua

 

            Aku mengawali tulisan ini dengan penggalan terjemahan dari cerpen The Strange Library karya Haruki Murakami. Terkesan tidak nyambung tetapi tentu saja karena sejauh ini kalimat tersebut adalah ungkapan cinta pada pandangan pertama paling indah—terlepas  dari apakah cinta pada pandangam pertama ada atau tidak—sekaligus paling sederhana yang pernah kutemui. Seharusnya aku menuliskan  penggalan lain yang lebih cocok untuk kucantumkan dibandingkan kalimat cinta itu. Begini bunyinya: Kenapa aku berlaku seperti ini, setuju jika saya sangat tidak setuju, membiarkan orang memaksaku untuk melakukan hal yang tak ingin kulakukan? Lebih cocok bukan? Dan lagi, potongan cerpen itu lebih mewakili pertanyaan seperti-apa-aku-ini. Mari kita membahas mengenai personalitas dalam sudut pandangku, alih-alih membahas omong kosong mengenai penggalan mana yang lebih cocok untuk tulisan ini.

            Tidak sekali dua aku mengiyakan permintaan orang lain padahal yang kuinginkan adalah menggelengkan kepala kuat-kuat atas permintaannya tersebut. Celakanya, apa yang kusebut sebagai kebaikan karena membantu teman, nyatanya berakhir bencana. Kejadian mengenaskan tersebut tidak cukup kulakukan sekali. Berkali-kali aku harus menelan rasa bersalahku atas rasa tidak enakanku untuk menolak permintaan teman yang sekiranya tidak mampu kupenuhi. Hingga akhirnya aku kapok dan bertekad untuk jujur atas kondisiku. Namun, hal pertama yang kulakukan untuk memperbaikinya adalah memaafkan diriku sendiri dan menerima bahwa hal buruk adalah keniscayan dalam kehidupan.

            Hal yang kugarisbawahi mengenai personalitas adalah tidak ada. Tidak ada personalitas. Kita akan selalu berinteraksi dan dalam berinteraksi tersebut kita akan selalu beradaptasi. Kita akan bersikap menyesuaikan dengan siapa kita berinteraksi. Bagaimana bersikap dengan teman, bersikap dengan pacar, bersikap dengan keluarga, pun bersikap dengan Tuhan. Ketika sendirian, kita nihil. Kita baru ada ketika kita berpikir.

            Toh jikapun ada yang namanya personalitas, tentunya hal tersebut tidak bersifat mutlak. Nyatanya, apabila seseorang menuai akibat buruk dari personalitas pada dirinya, ia akan mengubah—meskipun itu tidak dilakukan secara ekstrim dan radikal—sikap dan sifatnya (personalitas) tersebut.  Berlaku juga untuk personalitasnya ketika menghadapi lingkar pertemanan. Kecuali apabila ia ingin keluar dari lingkaran tersebut. Hal tersebut tergantung pada dirinya sendiri. Konon, apabila kamu tidak bersedia untuk beradaptasi dengan suatu lingkaran pertemanan, gantilah lingkaran pertemanan. Pilihannya: adaptasi atau ganti.

            Bagimana menurutmu?

2 komentar:

  1. semoga lekas jadi personal yang selalu berusaha baik buat diri sendiri😉

    BalasHapus
  2. iyaaa, kamu juga, cintaaa wkwkw :))

    BalasHapus